Enam Karakter Utama Sang Khalifah Pertama

Tina Haryati, M. Pd

Magister PAI STAI Sukabumi

Abu Bakar As-Shiddiq, sang khalifah pertama yang melanjutkan estafet kepemimpinan islam setelah Rasulullah SAW wafat memiliki karakter mulia yang patut menjadi tauladan. Sebagai seorang pemimpin, Abu Bakar As-Shiddiq telah berhasil menorehkan berbagai prestasi meski dalam kurun waktu kepemimpinan yang cukup singkat. Memerangi nabi palsu, memperluas wilayah islam dan memulai kodifikasi Al-Qur’an adalah tiga diantara prestasi gemilang sang Khalifah.

Keberhasilan Abu Bakar As-Shiddiq sebagai seorang pemimpin tidak lepas dari enam karakter yang melekat kuat dalam pribadi Abu Bakar As-Shiddiq.  Karakter adalah sifat nyata dan berbeda yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia karakter adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain. Adapun enam karakter mulia yang dimiliki Abu Bakar As-Shiddiq adalah sebagai berikut;

Iman yang teguh

Termasuk ke dalam Assabiqunal Awwalun, keimanan Abu Bakar As-shiddiq tidak diragukan lagi. Berbagai ujian keimanan telah mendera Abu Bakar As-shiddiq, mulai dari awal perjuangan islam hingga puncaknya saat beliau harus ditinggal wafat oleh Rasulullah SAW.  Hari dimana Rasulullah wafat adalah ujian terdahsyat bagi kaum muslim. Banyak para sahabat yang tergoncang. Di hari itu Abu Bakar mendapati Umar yang tengah berteriak-teriak kepada orang-orang di dalam masjid. Abu bakar berusaha menenangkan Umar dan kaum muslimin. Abu Bakar berkata: “Barangsiapa yang menyembah Muhammad, sesungguhnya Muhammad telah mati. barang siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha hidup:

“Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka ia tidak merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur. (Q.S. Ali Imran:144)

Keimanan kepada Allah dan kecintaan seorang Abu Bakar kepada Rasulullah harus dibayar dengan harga teramat mahal. Abu Bakar mengorbankan harta benda, waktu, tenaga, pemikiran, kepentingan keluarga dan bahkan jiwanya untuk membela agama Allah. Pada Masa kini, implementasi dari meneladani sifat keimanan Abu bakar As-Shiddiq dapat dilakukan sikap sederhana, yaitu;

  1. Tidak menyekutukan Allah.
  2. Taat menjalankan ibadah sebagai wujud cinta kepada Allah
  3. Mencintai Rasulullah dengan menjalankan Sunahnya
  4. Hati yang ikhlas saat ada anggota keluarga, sahabat, atau kerabat yang wafat
  5. Meyakini bahwa semua yang terjadi dalam kehidupan adalah atas kehendak dan ijin Allah

Ilmu dan Pengetahuannya Luas

Kemuliaan dan keutamaan Abu Bakar as-Shiddiq diperoleh dari ilmu dan kepahamannya tentang perintah dan larangan Allah. Khazanah keilmuan Abu Bakar as-Shiddiq melebihi para sahabat lainnya. seringkali ia menjadi rujukan para sahabat lain mengenai sunnah Nabi, karena ia hafal banyak hadist dan tidak ada hadist yang diriwayatkan para sahabat kecuali berasal darinya. Abu Bakar juga menguasai tafsir Al Qur’an, istinbath hukum darinya, dan memahami hikmah-hikmah yang terkandung di dalamnya. Abu Bakar juga dikenal paling mengetahui tafsir mimpi sebagaimana yang dikatakan ibn Sirin, bahwa orang yang paling memahami tafsir mimpi setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakar.

Contoh implementasi dari sikap meneladani sifat Abu Bakar yang luas ilmu pengetahuannya adalah sebagai berikut:

  1. Mengoptimalkan waktu untuk senantiasa menambah ilmu pengetahuan.
  2. Memiliki rasa keingintahuan yang sangat besar terhadap banyak hal.
  3. Tidak cepat merasa puas.
  4. Pemikirannya selalu berorientasi untuk masa depan dan kemaslahatan banyak orang
  5. selalu optimis

Zuhud terhadap Dunia

Secara bahasa, zuhud berasak dari lafazh zahida fiihi wa ‘anhu, zuhdan wa zahaadatan artinya berpaling dari sesuatu, meninggalkannya karena kehinaannya atau karena kekesalan kepadanya atau untuk membunuhnya. Lafazh zahuda fi asy-syai’i artinya tidak membutuhkannya. Apabila dikatakan zahida fi addunyaa artinya meninggalkan hal-hal yang halal dari dunia karena takut hisabnya dan meninggalkan yang haram dari dunia karena takut siksaannya (Muhtadin, 2020). Jangankan yang haram, bahkan yang halal saja dijauhi karena meyakini bahwa segala sesuatu yang dimiliki akan dihisab kelak di akhirat. Abu Bakar As-Shiddiq pada mulanya adalah seorang saudagar yang kaya raya, namun hartanya habis untuk perjuangan islam kala itu. Ketika zaman sekarang orang berlomba-lomba meraih jabatan dan kekuasaan, ia berpaling dari jabatan itu dan menerimanya dengan terpaksa seperti terpaksanya seseorang saat disodorkan bangkai untuk dimakan. Abu Bakar mentalaq tiga dunia, talaq yang tidak ada kata ruju’ padanya.

Contoh sikap yang merupakan implementasi dari meneladani sifat zuhud Abu Bakar, yang dapat dilakukan pada zaman sekarang, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Kehidupan akhirat menjadi prioritas utama daripada kehidupan dunia
  2. Hidup sederhana dan tidak bermewah-mewahan
  3. Banyak bersedekah dan membantu orang yang sedang kesusahan
  4. Membelanjakan harta untuk investasi akhirat seperti mewakafkan tanah, membangun masjid, dan pesantren.
  5. Bekerja dengan sungguh-sungguh semata-mata karena Allah.

Takut kepada Allah

Khauf merupakan maqam para ahli suluk dan ahwal (pengalaman ruhani) para thalibin. Dinamakan hal selama bersifat sementara dan dapat hilang atau muncul kembali. Sedangkan dinamakan maqam jika telah teguh. Kata khauf berasal dari bahasa Arab terdiri dari tiga huruf, yaitu kha’, waw, fa’ yang berarti menunjukkan gentar dan terkejut. Kata khauf menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah kata benda yang memiliki arti ketakutan atau kekhawatiran. Khawatir adalah kata sifat yang bermakna takut, gelisah, atau cemas terhadap sesuatu yang belum diketahui dengan pasti (Jayanti, 2015). Dengan kata lain Khauf adalah sikap mental yang merasa takut kepada Allah karena ketidaksempurnaan pengabdian seorang hamba.  Sikap mental ini sangat terlihat pada diri Abu Bakar, hal ini dapat dilihat pada beberapa kesempatan diantaranya ketika memuji kepada Allah, Abu Bakar:

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui diriku ketimbang diriku sendiri. Dan aku lebih mengetahui diriku dibanding mereka. Ya Allah, jadikanlah aku lebih baik dari sangkaan mereka dan ampunilah aku atas segala hal yang mereka tidak ketahui, dan janganlah menyiksaku atas apa-apa yang mereka katakana tentangku” (Sa’d & Al-Suyuthi, n.d.)

Perkataan Abu Bakar diatas menunjukan rasa takut Abu Bakar akan siksaan Allah dan ia sangat mengharapkan ampunan dari-Nya. Saking takutnya Abu Bakar kepada Allah, ia seringkali ditemukan tengah menangis mengharapkan ampunan dari Allah hingga bacaan shalatnya tidak terdengar jelas.

Contoh sikap yang merupakan Implementasi dari meneladani sikap khauf yang dimiliki oleh Abu Bakar, yang dapat dilakukan di masa sekarang ini diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Melakukan ibadah sebaik mungkin.
  2. Menjauhi maksiat
  3. Menjauhi semua perkara yang diharamkan.
  4. Menghindari sikap curang, licik, iri dengki, hasad dan sikap buruk lainnya dalam menjalani kehidupan, seberat apapun beban hidup  yang dihadapi.
  5. Tidak mendholimi atau menyakiti orang lain.

Selalu Bersyukur Kepada Allah.

Abu Bakar dikenal sebagai pribadi yang pandai bersyukur atas nikmat Allah. Sebagaimana do’a yang senantiasa dipanjatkannya:

“Ya Allah, aku memohon kesempurnaan nikmat dalam segala sesuatu, serta rasa syukur kepada-Mu atas segala nikmat itu sehingga Engkau benar-benar meridhaiku. Aku memohon kepadaMu kebaikan dalam segala sesuatu dan kemudahan dalam segala urusan, bukan kesulitan, Wahai dzat yang Maha Mulia”

 Lisan Abu Bakar senantiasa basah oleh zikir kepada Allah. Abu Bakar senantiasa menjaga siang dan malamnya dalam pengabdian kepada Allah. Di saat kegelapan menyelimuti bumi, dan malam membentangkan sayapnya, segenap insan larut dalam kebersamaan bersama sang kekasih, Abu Bakar larut dalam munajat panjangnya di keheningan malam. Khusuk dan tunduk dalam perjumpaan terindah antara seorang hamba dengan Rabb-Nya. Melantunkan pujian dan syukur atas segala nikmat yang telah dianugrahkan kepadanya, sehingga Allah melimpahi hatinya dengan cahaya dari cahaya-Nya dan menyelimuti jiwanya dengan pakaian kesucian.

Contoh implementasi sikap meneladani Abu Bakar yang senantiasa bersyukur kepada Allah dapat dilakukan di masa sekarang ini seperti berikut ini:

  1. Melaksanakan ibadah dengan ikhlas sebagai wujud syukur
  2. Banyak membantu orang lain, karena bentuk nyata dari bersyukur adalah memberi kepada sesama dan meyakini bahwa dalam harta yang dianugrahkan Allah, terdapat hak orang lain.
  3. Menjaga kesehatan dan harta yang dimiliki dengan sebaik-baiknya.
  4. Senantiasa mengingat Allah, karena pada hakikatnya apa yang dimiliki adalah milik Allah.
  5. Setiap manusia dianugrahi potensi yang berbeda, sebagai wujud syukur dapat dilakukan dengan mengembangkan potensi yang dimiliki untuk kemaslahatan ummat.

Pemaaf

Meminta maaf itu sulit tapi lebih sulit lagi memaafkan kesalahan orang lain. Tetapi hal ini tidaklah sulit bagi Abu Bakar. Ia dikenal mudah memaafkan dan berlapang dada atas banyak peristiwa yang menyesakan dadanya. Sejarah telah mencatat gambaran mulia Abu Bakar sebagai seorang pemaaf pada peristiwa Masthah ibn Atsatsah yang telah mengatakan hal yang buruk tentang ummul mukmimin Aisyah,ra, putrinya tercinta. Abu Bakar memaafkan Masthah karena teringat firman Allah tentang ampunan yang diberikan kepada orang yang memaafkan. Abu Bakar tidak hanya memaafkan Masthah tapi juga mengembalikan kehormatannya dan tidak pernah berkata buruk tentangnya.

Pada masa sekarang ini, contoh sikap meneladani sifat pemaaf Abu bakar yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Mudah meminta maaf jika berbuat kesalahan atau menyakiti orang lain.
  2. Memaafkan kesalahan orang lain dan mengikhlaskan, meski orang tersebut tidak meminta maaf.
  3. Menjauhi pertentangan atau pertikaian dengan orang lain.
  4. Tidak menyimpan dendam.
  5. Bersikap bijaksana dalam melihat perbedaan dan kekurangan pada diri orang lain.

Sang Khalifah pertama ini, yakni Abu Bakar As-Shiddiq telah wafat ribuan tahun yang lalu, namun namanya tetap harum hingga kini dengan segala kemuliaan yang dimilikinya. Bahkan dari gelar yang disematkan kepada beliau yakni As-Shiddiq sudah tergambar kemuliaan pribadi beliau.

Pada masa kini, di tengah krisis figur kepemimpinan tergambar kepribadian Abu Bakar yang istimewa sebagai jawaban terbaiknya. Semoga enam Karakter Abu Bakar yang telah dipaparkan, dapat kita jadikan tauladan dan contoh dalam kehidupan sehari-hari.

2 thoughts on “Enam Karakter Utama Sang Khalifah Pertama”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *