Strategi dalam Memberikan Nutrisi Sosial, Moral dan Spiritual pada Anak

Tina Haryati, M. Pd

(Magister STAI Sukabumi)

Mengawali tulisan ini dengan sabda Sang Pembawa Risalah Islam, Rasul panutan ummat yang namanya harum hingga akhir zaman yakni Rasulullah Muhammad Saw. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh oleh al-Baihaqi dan Ath-Thabarani dalam al-Mu’jamul Kabir, berbunyi:

 كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، حَتَّى يُعْرِبَ عَنْهُ لِسَانُهُ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah hingga ia fasih (berbicara).  Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Makna hadist diatas adalah bahwa manusia sejak lahir memiliki sifat pembawaan yang kuat diatas Islam. Diperlukan adanya pembelajaran sikap dan tindakan yang dilakukan oleh orang tua agar anak-anak menapaki fitrah keislamannya sebagai pondasi dasar kehidupan dan pembentukan karakter islami.

Ketetapan berjalan lurus dalam karakter islami yang kokoh tentu memerlukan upaya keras dari orang tua. Pengaruh orang tua yang sangat besar dalam hal ini ditunjukan oleh redaksi pada akhir hadist bahwa pengaruh orang tua bisa saja menjadikan anak menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi.

Berbagai upaya dilakukan orang tua dalam rangka menjalankan amanah Allah untuk menjaga anak-anak tetap berada pada jalan yang di ridhoi-Nya. Anak yang kuat, baik dari segi fisik maupun psikis adalah dambaan semua orang tua. Salah satu upaya yang dilakukan adalah pemberian “nutrisi” sejak dini. Dalam buku Excellent Parenting: Menjadi Orang Tua Ala Rasulullah disebutkan bahwa seorang anak tidak hanya memerlukan nutrisi untuk fisiknya saja, akan tetapi juga memerlukan nutrisi lain yang tidak kalah penting, yaitu nutrisi sosioemosi, nutrisi moral dan nutrisi spiritual (Kusumah & Vindy, 2007).

Nutrisi Sosioemosional

Orang tua dan anak mempunyai ikatan emosional yang kuat. Emosi adalah bahasa pertama yang menghubungkan antara sang buah hati dengan orang tuanya, sebelum ia dapat berkomunikasi secara verbal. Kedekatan yang disertai ikatan emosional atau dalam bahasa lain dikenal dengan attachment antara orang tua dan anak, akan menciptakan perasaan aman dan nyaman pada diri sang anak. Seorang anak yang merasakan aman dan nyaman akan meyakini bahwa ia akan selalu dijaga oleh orang-orang terdekatnya hingga muncullah rasa berani dan percaya diri untuk menghadapi dunia luar.

Ayah dan ibu dianggap sebagai “Sang Pemberi Rasa Aman”, ibu sebagai pengasuh dan ayah sebagai tempat bersandar ketika ia mulai mengeksplorasi lingkungannya. Pemenuhan rasa aman ini secara spontan dilakukan oleh ayah dan ibu dalam interaksi sehari-hari dengan buah hati. Misalnya, ketika buah hati menangis karena lapar, ibu akan langsung memberikan ASI, dalam arti tidak membiarkan sang anak berlama-lama dalam kondisi ketidaknyamanan. Begitupun ketika buah hati merasa kepanasan, gatal, atau mengompol, seorang ibu akan tau apa yang harus dilakukan. Begitulah bahasa kalbu yang hanya dimiliki oleh orang tua dan anak, atau kita kenal dengan ikatan emosional.

Nutrisi dalam perkembangan sosioemosi seorang anak dapat dilakukan dengan beberapa strategi berikut ini;

  • Pastikan pengasuhan anak dilakukan oleh ayah dan ibu secara bersamaan sejak anak balita. Pengasuhan yang hangat dari kedua orang tua sangat berpengaruh terhadap optimalisasi perkembangan anak. Jangan melulu tertumpu pada ibu, karena ayah juga harus ikut andil dalam pengasuhan anak.
  • Setiap anak dilahirkan berbeda, meskipun terlahir dari rahim yang sama. Berhenti membandingkan satu dan yang lainnya. Masing-masing terlahir istimewa. Keistimewaan inilah yang harus diketahui orang tua agar dapat memberikan pola asuh yang tepat.
  • Dunia anak adalah dunia bermain. Berikan ia ruang seluas-luasnya untuk bermain dengan aman. Berikan ia kesempatan untuk berinteraksi dengan teman sebayanya. Orang tua yang harus beradaptasi dengan perubahan anak bukan memaksakan atau menilai anak dengan pola fikir manusia dewasa yang tentu saja jauh berbeda.
  • Batasi penggunaan gawai dan televisi pada anak, buatlah kesepakatan dengan anak tentang batasan waktu yang diperbolehkan dan tetap berada di tengah antara menghukum (overcontrolling) dan membebaskan (permisif).
  • Orang tua merupakan role model pertama bagi anak, maka jadilah contoh yang baik. Anak merupakan peniru yang ulung, ia akan meniru apa yang ayah ibu lakukan, baik dari sikap maupun perkataan. Ayah dan ibu juga harus sehat dan bahagia. Karena emosi apapun yang dirasakan orang tua akan terdeteksi oleh anak.

Nutrisi Moral

Pembiasaan dengan penuh disiplin adalah kata kunci dari nutrisi moral dalam perkembangan anak. Perkembangan moral sangat dipengaruhi oleh penerapan disiplin yang dilakukan dengan metode induktif. Hal ini melibatkan pemahaman -ketimbang pemaksaan tanpa alasan – dan memfokuskan perhatian anak pada akibat yang ia timbulkan terhadap dirinya, orang lain dan lingkungan.

Anak yang perkembangan moralnya baik, secara umum ditunjang oleh orang tua yang;

  • Hangat dan senantiasa memberikan dorongan, bukan yang sering menyalahkan atau menghukum.
  • Memberikan input pada anak melalui kisah-kisah yang memberi keteladanan budi pekerti, misalnya kisah para Nabi dan rasul atau membacakan dongeng.
  • Menjadi teladan yang baik bagi anak
  • Mendengarkan pendapat anak dan melibatkannya dalam musyawarah keluarga sesuai usianya.
  • Memberikan pelabelan pada tingkah laku positif dan memberikan pengertian tentang mana prilaku baik dan mana prilaku yang buruk.

Nutrisi Spiritual

   Secara fitrah, manusia senantiasa terhubung dengan Rabbnya. Melihat anak-anak tumbuh dengan kecintaan kepada Allah, merupakan kebahagiaan yang tiada tara. Anak yang sholeh adalah dambaan setiap orang tua. Anak yang sholeh adalah investasi dunia akhirat bagi setiap orang tuanya. Kecintaan kepada Allah akan tumbuh pada diri seorang anak ketika ia mengetahui, memahami, tentang Allah. Pengetahuan dan pemahaman tentang ketuhanan dapat diperoleh melalui pembelajaran yang menyertakan kurikulum agama.

Madrasah dan pesantren bisa menjadi alternatif pilihan. Sebagai lembaga bercirikan Islam, madrasah dan pesantren menggunakan kurikulum yang bersumber pada Al-Qur’an dan Hadist. Tentu di dalamnya mengandung nilai-nilai keimanan (itiqodiyah), Ibadah (Amaliyah), dan Khuluqiyah.

Strategi yang dapat dilakukan dalam usaha memberikan nutrisi spiritual pada anak diantaranya adalah memadukan metode pendidikan yang dicontohkan Lukman Al Hakim dan Ali Bin Abi Thalib.

  • Metode Pendidikan Lukman Al Hakim

Metode pendidikan Lukman al Hakim diabadikan dalam Al-Quran surat Lukman ayat 12-19. Metode pendidikan yang diterapkan oleh Lukman Al Hakim menekankan pada empat aspek yaitu;

  1. Pendidikan Aqidah

Penanaman nilai-nilai aqidah menjadi asas pertama yang diajarkan Lukman al Hakim pada anaknya. Pengenalan tentang kekuasaan Allah, keesaan Allah, dan larangan untuk tidak menyekutukan-Nya

  1. Pendidikan Akhlak

Setelah penanaman nilai-nilai akidah tertanam pada diri sang anak, Lukman al Hakim kemudian mengajarkan pendidikan akhlak pada anaknya. Akhlak pertama yang diajarkan adalah bersyukur kepada Allah dan berbakti kepada orang tua.

  1. Pendidikan Ibadah.

Setelah jiwa sang anak tertanam aqidah yang kuat dan akhlak yang mulia, selanjutnya Lukman al Hakim mengajarkan pengamalan ibadah sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya, seperti menjaga sholat.

  1. Pendidikan Dakwah.

Amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas seorang muslim. Terlepas dari sifat khilaf yang melekat pada diri setiap manusia, kewajiban untuk menyampaikan ayat-ayat Tuhan dan saling mengingatkan dalam kebaikan tetap menjadi kewajiban seorang muslim. Sebagaimana yang diajarkan Lukman al Hakim pada anak-anaknya untuk senantiasa menjaga sholat, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar dan bersabar. Karena ketiga hal inilah yang menjadi bekal terpenting dalam mengarungi kehidupan.

  • Metode Pendidikan Ali Bin Abi Thalib (Rumus 7×3):

Metode pendidikan ala Ali Bin Abi Thalib dikenal dengan rumus 7×3, karena Ali bin abi Thalib membagi tiga kelompok berdasarkan usianya.

  1. Tujuh tahun pertama (usia 0-7 tahun) perlakukanlah anakmu bagaikan seorang raja.

Ibaratkan seorang raja yang ketika bertitah dituruti, ketika ada permintaan dipenuhi, diperlakukan senyaman mungkin oleh para dayangnya. Begitu pula ketika anak usia dibawah tujuh tahun, ketika ia memanggil kita langsung datang, maka kelak ketika orang tua memanggil dia akan langsung pula menghampiri.

Ketika ada permintaannya dipenuhi orang tua, maka kelak anak akan berusaha untuk memenuhi kebutuhan orangtuanya. Ketika sebelum tidur orang tua mengusap-usap kepala dan punggungnya, maka kelak akan muncul empati pada diri sang anak, ketika anak melihat orang tua kelelahan atau sakit ia akan spontan mengambilkan air atau memijit kaki orang tua.

  1. Tujuh tahun kedua (usia 8-14 tahun) perlakukanlah anak layaknya “tawanan”

Di usia 8-14 tahun adalah usia yang tepat untuk anak mengetahui hak dan kewajibannya. Oleh karena itu pada usia ini anak sudah harus diajarkan tentang hukum-hukum islam baik yang wajib, sunnah, makruh maupun haram. Reward dan punishment akan sangat pas diberlakukan pada usia ini agar anak memahami tentang tanggung jawab dan konsekuensi. Akan tetapi setiap anak itu unik, jadi dalam pemberlakuan reward dan punishment pada anak bisa saja berbeda.

  1. Tujuh tahun ketiga (usia 15-21 tahun)

Pada umumnya, di usia ini anak sudah baligh. Jadilah sahabat terbaik bagi anak. Berbicaralah dari hati ke hati tentang banyak hal. Beri pemahaman bahwa ia semakin beranjak dewasa, perubahan tidak hanya pada fisik saja tapi juga akan berubah secara mental, spiritual, sosial, budaya dan lingkungan sehingga sangat mungkin akan menghadapi masalah-masalah baru. Pada saat itulah yakinkan mereka bahwa orangtua ada disamping mereka untuk menghadapi semua masalah itu. Beri anak keleluasaan ruang untuk bergaul dan bertindak meski tetap dalam pengawasan.

Do’a terbaik tanpa henti, jangan sampai ditinggalkan. Strategi pemberian nutrisi sosial, moral dan spiritual harus senantiasa  diiringi do’a-do’a terindah yang dipanjatkan setiap saat dan  di keheningan malam yang sunyi.

Do’a Orang Tua Bagi Buah Hati Tercinta:

“Duhai Allah, jadikanlah putra-putri kami dari golongan ahli ilmu dan kebaikan. Dan janganlah Engkau jadikan mereka bagian dari keburukan. Jadikanlah putra-putri kami ahli ilmu dan mengamalkan ilmunya. Jadikanlah mereka hamba-Mu yang taat, hamba-Mu yang bertaqwa dan sholeh-sholehah.

Duhai Allah, angkatlah derajat putra-putri kami dengan cara yang baik, panjangkanlah umurnya, sehatkanlah badannya, dan jauhkanlah mereka dari permusuhan dengan anak cucu adam lainnya.

Duhai allah, Sesungguhnya Engkan dzat yang Maha Mencintai, cintailah dan ridhoilah perjalanan hidup putra-putri kami, dan atas cintaMu, maka satukanlah kami kelak di surgaMu, aamiin ya Rabbala’lamiin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *