Tantangan Guru dalam Mendidik Generasi Z

Arini’l Haq, S.Psi., S.Pd.I

(Calon Magister Pendidikan Agama Islam (PAI) STAI Sukabumi)

 

Guru dalam tugas-tugas kependidikannya seringkali dibenturkan dengan permasalahan-permasalahan yang rumit. Sudah bukan rahasia lagi, terutama dalam pembahasan hangat mengenai isu-isu kontemporer pendidikan, bahwa Guru zaman now harus merangkap peran yang menuntut tanggung jawab tersendiri; sebagai anggota keluarga dengan perannya masing-masing, sebagai teladan bagi seluruh murid-muridnya, sebagai desainer sekaligus presentator perangkat-perangkat pendidikan, dan masih banyak lagi.

Diantara permasalahan yang melanda para guru sehingga berpotensi menimbulkan kegalauan tersendiri adalah adanya kesenjangan alias rasa “tidak sehati” dengan para anak didiknya. Guru maunya begini, anak didik nangkepnya gitu, anak didik ngarepnya gini, eeh … gurunya malah gitu. Hal ini secara tidak langsung menjadi sumber stress tersendiri yang menghambat efektivitas kinerja guru terutama tanggungjawab utamanya sebagai seseorang yang sangat diharapkan menjadi tokoh utama dalam dunia kependidikan.

Kesenjangan (usia, masa, dan generasi) sepertinya harus mulai menjadi perhatian dan kesadaran khusus bagi para guru untuk memahami, tidak hanya peserta didiknya, namun juga dirinya sendiri. Hal ini mungkin merupakan hikmah yang bisa diambil tentang bagaimana Allah mengutus Rasul dan ajaran yang berbeda-beda di setiap zamannya. Salah satu metode yang harus diperhatikan bersama adalah tentang konsep “bilisaani qoumih” alias dengan bahasa kaumnya atau bahasa obyek pendidikan itu sendiri yaitu murid.

Bagaimana jika kesenjangan antara guru dan murid semakin menganga? Tanpa sadar baik guru ataupun murid saling mencela satu sama lain karena merasa ada sebuah ketidakcocokan dalam hati mereka. Guru terus-terusan membandingkan tentang kondisi dirinya di zaman baheula ketika ia menjadi murid, sementara murid terus-terusan mengira guru sebagai orang yang kolot, suka marah-marah, tukang ngatur, dan banyak lagi. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan segenap kelemahlembutan akhlaqnya dalam berdakwah saja dibenci oleh orang-orang yang tertutup hatinya, apalagi guru macam kita?

Mau tidak mau dan lagi-lagi guru dituntut untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan muridnya. Salah satu yang mungkin bisa menjelaskan adalah teori generasi. Kali ini kita langsung pada generasi Z yang dituturkan oleh para pencetus teorinya sebagai generasi yang akan segera “berkuasa” di dunia, menggantikan generasi sebelumnya, generasi Y.

Saat ini, generasi Z ini sedang bersekolah dari jenjang menengah sampai perguruan tinggi. Dalam teori generasi, generasi Z adalah anak-anak yang memiliki kemiripan karakter dengan generasi Y namun agak di atas lagi levelnya. generasi Z cenderung lebih “santai” dan berfikir saat ini karena mereka hidup pada sebuah masa yang mana perubahan bisa terjadi sangat cepat. Variabel-variabel di dalam kognitifnya juga lebih kompleks karena akses yang mereka lakukan pada dunia digital jauh lebih banyak dan lebih tinggi intensitasnya. Hal tersebut kontras jika dibandingkan dengan generasi sebelumnya. Generasi Z juga merupakan kakak dari generasi Alpha yang mulai dilahirkan setelah tahun 2010.

Banyak teori yang menjelaskan siapa itu Generasi Z. Salah satu dari teori ini menyebutkan bahwa iGeneration-nama lain dari generasi Z- alias generasi internet adalah mereka yang lahir dari tahun 1995-2010 (Bencsik, Csikos, Juhez dalam Putra (2016:130). Beberapa karakteristik menonjol mereka yang seyogyanya mendapatkan empati dari para guru dan orang tua di antaranya:

  1. Lebih mampu (dibanding generasi Y) mengaplikasikan banyak kegiatan dalam satu waktu, khususnya kegiatan yang berhubungan dengan dunia maya seperti: menjalankan sosial media menggunakan ponsel, browsing dengan Personal Computer, sekaligus mendengarkan murottal dengan headsetnya. Generasi ini sejak kecil memang sudah akrab dengan teknologi dan kecanggihan gadget. Hal ini secara tidak langsung berpengaruh dengan kepribadiannya.
  2. Cenderung abai dengan komitmen, merasa cukup dengan apa yang mereka miliki saat ini dan lebih mudah merasa nyaman di manapun mereka berada.
  3. Cenderung dangkal, tidak berfikir mendalam, hidup untuk saat ini, bereaksi cepat terhadap segala sesuatu. Hal ini terkait dengan kedekatan mereka terhadap internet sebagai sumber dari segala sesuatu yang mereka butuhkan serta menyajikan segala sesuatu itu lebih cepat dan instan.

Dalam kondisi yang berbeda dengan generasi orang tua dan guru mereka, potensi kerusakan terutama mental dan spiritual menjadi sebuah keniscayaan bagi generasi ini. Tidak sedikit orang tua maupun guru merasa sangat kewalahan dalam membersamai putra putrinya yang merupakan bagian dari generasi Z ini terutama dalam hal digital yang sudah menjadi karakteristik utama generasi Z. Sementara orang tua atau guru merupakan bagian dari generasi yang bisa jadi di atas Y atau bahkan atasnya lagi (Generasi X atau Baby Boomers). Semakin mereka tidak melakukan akselerasi digital yang disertai pemahaman-pemahaman, semakin mereka tidak mengenal anak-anak mereka, semakin jauh juga bara dari api, bahkan malah hanya akan berujung pada kesia-siaan.

Wallahu ta’ala a’lam.

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x
Scroll to Top